Tabungan Firdaus iB

Selengkapnya »

Kini Nasabah Bank Aceh Syariah dapat melakukan transfer & tarik tunai di puluhan ribu mesin ATM termasuk BCA

Selengkapnya »

Inklusi Keuangan untuk semua

Selengkapnya »

Produk RAHN PT Bank Aceh Syariah

Solusi Tepat Dana Cepat Sesuai Syariah Selengkapnya »

 

Plt. Gubernur Aceh Lantik Bapak Haizir Sulaiman Direktur Utama Bank Aceh

Nova Minta Bank Aceh Fokus Salur Kredit Sektor Produktif

* Haizir: Segera Saya Tindak Lanjuti

BANDA ACEH – Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah MT meminta kepada Direktur Utama PT Bank Aceh Syariah (BAS) yang baru, Haizir Sulaiman MH untuk memprioritaskan penyaluran kredit Bank Aceh ke sektor produktif, di antaranya usaha mikro, kecil, dan menengah di berbagai bidang usaha.

“Kita perlu memberikan perhatian yang besar ke sektor usaha produktif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dan tersedianya lapangan kerja yang dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakata Aceh,” kata Nova Iriansyah dalam sambutannya pada acara Pengambilan Sumpah dan PelantikanDirut PT Bank Aceh Syariah periode 2018-2022, Haizir Sulaiman, di Restoran Pendopo Gubernur Aceh, Senin (8/10).

Acara pengambilan sumpah dan pelantikan Dirut Bank Aceh Syariah itu dihadiri anggota Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh, Penasihat Gubernur Aceh Bidang Ekonomi dan Perbankan, Adnan Ganto MBA, Rektor Unsyiah, Prof Dr Samsul Rizal MEng, Sekda Aceh, Pimpinan dan anggota DPRA, para bupati/wali kota se-Aceh, para kepala Satuan Kerja Perangkat Aceh, dan undangan lainnya.

Nova juga mengingatkan Haizir Sulaiman agar selalu berhati-hati dalam pengambilan kebijakan. Selanjutnya, keseimbangan antara pengumpulan dana pihak ketiga dengan penyaluran kredit juga harus selalu dijaga. Keberhasilan pengumpulan dana pihak ketiga yang besar, apabila tidak diimbangi dengan penjualan atau penyaluran kredit ke sektor produktif yang besar maka hal itu bisa menjadi beban biaya atau ongkos yang besar pula bagi bank.

Disebutkan, total aset yang dimiliki Bank Aceh Syariah sudah mencapai Rp 24,7 triliun, penyertaan modalnya Rp 1 triliun, sehingga membuat rasio kecukupan modal mencapai 18,66 persen, jauh melampui batas yang diisyaratkna regulator sebesar minimal 8 persen.

Keuntungan yang diraih bank ini setiap tahunnya juga meningkat dan mencapai Rp 442 miliar. “Nah, hala itu jangan membuat pihak komisaris, direksi, dan manajemen Bank Aceh Syariah jadi lupa diri, melainkan harus terus bersyukur untuk bisa selalu berprestasi dalam menjalankan sistem usaha syariah perbankannya,” wejang Nova.

Ia ingatkan bahwa Bank Aceh Syariah itu miliknya masyarakat dan dukungan penuh masyarakat Aceh sangat diperlukan. “Harta karun” orang Aceh itu harus selalu dijaga dan terus dikembangkan untuk menjadi lebih besar lagi dengan cara-cara syariah (sesuai dengan ajaran Islam), perlu kehati-hatian, tapi tidak berlebihan.

Pengumpulan dana pihak ketiga yang telah mencapai Rp 21,7 triliun itu, diingatkan Nova jangan sampai membuat pihak manajemen merasa senang dan puas, tapi harus diimbangi dengan penyaluran kredit ke sektor produktif yang lebih besar lagi dibanding sekarang, jika tak maka ia akan menjadi beban atau ongkos yang besar.

Perkembangan Bank Aceh Syariah dari tahun ke tahun, diakui Nova, memang mengalami kemajuan pesat. “Namun sekali lagi saya ingatkan bahwa kita harus terus instropeksi diri. Kebanggaan yang terlalu besar justru bisa membuat kita lupa diri dan jatuh ke lubang hingga terpuruk,” imbuhnya.

Untuk itu, kepada Haizir Sulaiman yang mendapat amanah mengelola bank ini, Nova mengharapkan supaya bekerja lebih profesional dengan semangat tinggi yang didukung dengan komitmen, integritas, loyalitas, dan kompetensi yang tinggi pula.

Ia minta Haizir menjalankan kepemimpinan manajemen dengan leadership yang kuat dan lakukan koordinasi dengan baik dengan lembaga pengawas dan pembina perbankan, antarbank, mitra usaha, dan kelembagaan. “Setelah pelantikan ini segera lakukan konsolidasi internal dan pembenahan ke dalam dalam rangka penguatan manajemen dan kelembagaan dengan memastikan seluruh unsur di dalam struktur organisasi Bank Aceh Syariah berada dalam satu team work yang solid,” ujarnya.

Selain itu, kata Nova, Bank Aceh Syariah juga perlu memperhatikan digitalisasi bank dalam seluruh aspek operasionalnya. IT dan SDM perbankan terus diperkuat. Hal ini akan menjadikan Bank Aceh Syariah mampu merebut konsumen lebih banyak dari bank konvensional dan syariah lainnya, memenangkan persaingan dan menjadikan Bank Aceh Syariah sebagai leader (yang memimpin), bukan follower (pengikut).

Sementara itu, Dirut PT Bank Aceh Syariah yang baru, Haizir Sulaiman yang dimintai tanggapannya mengenai amanah Plt Gubernur Nova Iriansyah untuk dirinya selaku Dirut Bank Aceh Syariah mengatakan, amanah yang disampaikan Plt Gubernur Nova Iriansyah, di antaranya dia harus melakukan konsolidasi ke dalam untuk memperkuat manajemen bank, kemudian tingkatkan IT dan SDM, serta terus mengembangankan jaringan kemitraan usaha dan berkoordinasi dengan mitra usaha, kelembagaan perbankan dan instansi pemerintah maupun swasta lainnya.

Selanjutnya, kata Haizir, ia akan fokuskan penyaluran kredit ke sektor usaha produktif, di antaranya UMKM dan selalu hati-hati dalam setiap mengambil kebijakan. “Amanah Plt Gubernur itu akan segara kita tindak lanjuti, termasuk pejabat yang akan menggantikan posisi jabatan saya yang lama akan segera kita isi melalui tahapan yang berlaku di internal Bank Aceh Syariah,” ujar mantan direktur Unit Usaha Syariah Bank Aceh itu.

Mantan Dirut PT Bank Aceh yang kini menjadi Wali Kota Banda Aceh, H Aminullah Usman yang dimintai tanggapannya mengatakan, sangat sependapata dengan amanah yang disampikan Plt Gubernur Nova Iriansyah. “Ke depan Bank Aceh Syariah perlu meningkatkan penyaluran kreditnya ke sektor produktif untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat Aceh,” ulasnya.

Untuk mengembangkan unit usahanya ke berbagai sektor usaha guna memperbesar pengumpulan dana pihak ketiga dan penyaluran kreditnya, Bank Aceh Syariah, menurut Aminullah, perlu membuka kantor cabanag di Jakarta, seperti halnya bank-bank daerah lain yang sudah duluan membuka kantor cabanganya di Jakarta. Misalnya, Bank Jabar. Pangsa pasar kredit maupun pengumpulan dana pihak ketiga di Jakarta cukup besar, sehingga jika Bank Aceh Syariah buka kantor cabangnya di Jakarta, ini merupkan prestasi besar.

“Kita jangan cuma jago di kandang, tapi harus bisa jago juga di kandang orang lain, untuk merebut nasabah potensial sebanyak-banyaknya guna memenangkan persaingan. Apalagi pada tahun 2020 kita sudah memasuki pasar bebas Masyarakat ASEAN, harus kita persiapkan dari sekarang, jika tak ingin jadi penonton,” demikian Aminullah.