Tabungan Firdaus iB

Selengkapnya »

Kini Nasabah Bank Aceh Syariah dapat melakukan transfer & tarik tunai di puluhan ribu mesin ATM termasuk BCA

Selengkapnya »

Inklusi Keuangan untuk semua

Selengkapnya »

Produk RAHN PT Bank Aceh Syariah

Solusi Tepat Dana Cepat Sesuai Syariah Selengkapnya »

HUT PT Bank Aceh Syariah ke-46

Berubah Bersama Selengkapnya »

 

Setahun Bank Aceh Setelah “Konversi”

Published by Majalah Infobank Edisi Nomor 469 September 2017 Volume. XXXIX

Setelah “dikonversi” alias menjadi syariah, Bank Aceh tumbuh dengan sangat baik. Industry perbankan syariah pun ketiban berkah lantaran bisnisnya mulai merekah. Tahun ini bank-bank syariah pasang target lumayan tinggi.

Oleh Ari Nugroho

 

Pada 19 September 2017 Bank Aceh (Bank Aceh Syariah) genap berumur setahun dalam label bank umum syariah (BUS). Konversi bank kebanggaan masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) ini membawa angin segar bagi industry perbankan syariah di Tanah Air.

Bukti yang paling kelihatan ialah market share aset perbankan syariah berhasil menembus angka 5%. Setelah selama satu  decade konsisiten jongkok dibawah 5%.  Dan, sekali lagi, hal itu terjadi lantaran ditopang konversi Bank Aceh Syariah. Sampai dengan Mei 2017, market share aset peerbankan nasioanal tercatat 5,35%.

Kontribusi besar Bank Aceh Syariah terhadap industry perbankan syraiah terhadap industry perbankan syariah diamini Ahmad Soekro, Kepala Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Menurut nya, konversi bank aceh yang dipimpin Busra Abdullah sebagai direktur utama ini telah mendorong perkembangan perbankan syariah.

“Konversi Bank Aceh mendorong positif perkembangan dan pertumbuhan perbankan syraiah di Indonesia selama 2016. Sejauh ini Bank Aceh Syariah menunjukkan pertumbuhan yang positif, baik dari sisi asset maupun kenerja keuangan,” kata Ahmamd soekro kepada Infobank, blan lalu.

Dilihat dari kinerja keuangan, Biro Riset Infobank (birl) mencatat, secara uum bank aceh syariah tumbuh dengan sangat baik. Hal itu ditandai dengan dengan pertumbuhan bisnisnya yang lebih tinggi dibandingkan dengan industry perbankan syariah yang diwakili 13 BUS dan 21 unit usaha syariah (UUS). Per Juni 2017 aset bank ini tumbuh 23,03% secara year to date (ytd), dari 18,76 triliun. Sementara, asset industry perbankan syariah pada periode yang sama tumbuh 6,08% atau menjadi Rp378,20 triliun.

Dari sisi laba, Bank Aceh Syariah juga sukses mempertebal perolehan cuan-nya hingga lebih 100%. Jika pada akhir 2016 laba bank ini tercatat Rp101,82 miliar, hingga enam bulan berjalan pada 2017,labanya mengembang 104,82% menjadi Rp207,89 miliar. Sementara, laba industry perbankan syariah sampai dengan Juni 2017bsecara ytd terctat tumbuh 10,07% atau menjadi Rp2,31 triliun.

Sayangnya kinerja pembiayaan Bank Aceh Syariah relative agak masih tersendat. Pertumbuhan pembiayaan tak setinggi pos-pos keuangan lainnya. Bahkan, bila dibandingkan dengan pertumbuhan industry, pertumbuhan pembiayaan bank ini lebih rendah. Per Juni 2017 pembiayaan yang disalurkan Bank Aceh Syariah tercatat tumbuh 2,31% dari posisi akhir 2016 atau menjadi Rp12,49 triliun. Sedangkan, di industry, pertumbuhan pembiayaan tercatat 10,07% pada periode yang sama.

Kehadiran Bank Aceh Syariah yang tercatat sebagai bank aceh syariah terbesar kelima di Indonesia dari sisi aset sangat perlu diapresiasi lantaran memberi energy positif bagi industry. Setelah sempat mengalami perlambatan pertumbuhan pada tiga tahun kebelakang, kini bank-bank syariah mulai tancap gas.

Pada tahun pembiayaan perbankan tumbuh 16,44% dari tahun sebelumnya dengan laba yang juga mengembang, yakni sebesar 17,36%. Sampai dengan Jui 2017, bisnis perbankan syariah berlari lebih kencang dibandingkan dengan periode yang sama 2016. Lihat saja, pembiayaan tumbuh 19,42% dari Rp222,17 triliun pada Juni 2016 menjadi Rp265,31 triliun pada Juni 2017. Sementara, labanya melejit hingga 61,78% pada periode yang sama.

Banker-bankir bank syariah pun makin optimistis. Hingga akhir tahun ini, industry perbankan syariah mematok pertumbuhan tetap double digit dan lebih baik dari  pada tahun 2016. “Tahun 2017 seharusnya much beter. Industry, sayakira, seharusnya tumbuh double digit,” tutur Achmad K. Permana Sekretaris Jendral Asosiasi Perbankan Syariah Indonesia (Ambisindo) yang juga Direktur Syariah Permata Bank, kepada Indra Haryono dari Infobank, medio bulan lalu. Acmad K. Permana juga mengatakan, bank syariah yang dipimpinnya memasang target tumbuh dua digit tahun ini. Ia optimistis pertumbuhan bisnis sebesar 15% bias dicapai PermataBank Syariah pada 2017.

Target bank syariah untuk tumbuh dua digit sudah sampai ke OJK. OJK sendiri dalam proyeksinya juga menilai bahwa target itu realistis dan besar kemungkinan bisa tercapai. “Diperkirakan perbankan syariah pada 2017 akan tumbuh pada kisaran 11% sampai dengan 12%,” tukas Ahmad Soekro.

Senada dengan PermataBank Syariah, BCA juga mengincar pertumbuhan sebesar 15%. Hal ini ditegaskan John Kosasih, Direktur Utama BCA Syariah, kepada Infobank, Juli lalu. “Kami di BCA Syriah juga mau mencoba, kira-kira (tumbuh) di 15%-lah,” ucapnya.

Namun BCA Syariah akan memastikan bahwa pertumbuhan yang dicapainya adalah pertumbuhan yang berkualitas. Pasalnya, segala kemungkinan bisa terjadi sehingga Bank tetap perlu bergerak hati-hati. “Namun, kami lihat lagi kondisi ekonomi. Kalu dunia usaha makin bagus, saya kira, kami bisa lebih dari itu. Namun, memang, BCA Syariah banknya belum terlalu besar. Kami konservatiflah. Jangan terlalu agresif,” imbuh John Kokasih.

Langkah yang diambil BCA Syariah itu sangat bijaksana. Menurut Infobank Insitute, bank-bank syariah lain juga perlu menerapkan pemahaman seperti itu. Di luar sana, kesempatan bagi perbankan syariah untuk tumbuh tinggi memang ada. Namun, bank-bank syariah tetap perlu melangkah dengan hati-hati sekaligus mengimbangi pertumbuhan bisnis dengan dasar-dasar bisnis perbankan yang makin baik. Misalnya, dengan menerapkan prinsip-prinsip prudential banking dan tata kelola perusahaan.

Bank syariah sebagai rahmat bagi semua harus mampu memberikan solusi terbaikkepada setiap nasabah. Jangan sampai, demi mengejar pertumbuhan tinggi, bank-bank syariah melupakan kebaikan yang seharusnya diberikan kepada nasabah. Namun, bukan berartI bank syariah harus selalu berkompromi jika dihadapkan pada masalah, khususnya masalah pembiayaan. Sebab, jika seperti itu bank syariah bisa “wassalam”. Sebagai sebuah bank,bank syariah tetaplah sebuah entitas bisnis yang mesti mendapat profit plus menjauhi kerugian.

“Secara umum rencana bisnis bank (RBB) bank syariah memproyeksi pada 2017 ini bank-bank syariah masih bisa tumbuh dua digit. Memperhatikan perkembangan industry perbankan syaria yang terjaga sampai dengan posisi Juni 2017 dan proyeksi pertumbuhan menurut RBB bank-bank syariah serta oulook OJK, maka diperkirakan perbankan syariah pada 2017 akan tumbuh pada kisaran 11% sampai dengan 12%,” Ahmad Soekro, Kepala Departemen Perbankan Syariah OJK.

“Tahun 2017 seharusnya much better. Pada 2016 adalah terkahir perbankan syariah focus pada restrkturisasi. Jadi, harusnya portopolio (2017) lebih bersih dibandingkan dengan 2016. Tentunya, 2017 akan lebih focus pada pertumbuhan dan aset-asetnya jauh lebih sehat sehingga secara profitabilitas pertumbuhannya jauh lebih bagus. Industry, saya kira, seharusnya tumbuh double digit,” Achmad K. Permana, Sekretaris Jendral Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo).

“Sebenarnya begini, targrt kami, kalau dari BI, OJK sudah keluarkan target, mungkin double digit. Kami di BCA Syariah juga mau mencoba, kira-kira di 15%-lah. Namun, memang, BCA Syariah banknya belum terlalu besar. Kami konservatiflah. Jangan terlalu agresif. Kami harus bisa baca nasabah juga, harus bisa beri masukan untuk nasabah,” John Kokasih, Direktur Utama BCA Syariah.

 

KINERJA BANK ACEH SYARIAH & PERBANKAN SYARIAH

Bank Aceh Syariah

BUS & UUS

2016

Juni 2017

ytd (%)

2016

Juni 2017

ytd (%)

Aset

18.759

23.079

23,03

356.504

378.198

6,08

DPK

14.429

19.221

33,21

279.335

302.013

8,12

Pembiayaan

12.206

12.488

2,31

248.007

265.317

6,98

Laba

101

207

104,18

2.096

2.307

10,07

NPF (%)

1,39

1,51

-

4,15

3,99

-

Ket: dalam Rp miliar                                                                  Sumber: Biro Riset Infobank (birl)