Selamat Hari Raya Idul Adha

Selamat Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1438 H Selengkapnya »

HUT BANK ACEH

Tumbuh berkembang bersama mensejahterakan ekonomi rakyat Selengkapnya »

Tabungan Firdaus iB

Selengkapnya »

Kini Nasabah Bank Aceh Syariah dapat melakukan transfer & tarik tunai di puluhan ribu mesin ATM termasuk BCA

Selengkapnya »

Inklusi Keuangan untuk semua

Selengkapnya »

 

Category Archives: Berita Seputar Bank Aceh

OJK AKAN JADIKAN ACEH ROLE MODEL KEUANGAN SYARIAH

http://infobanknews.com/ojk-akan-jadikan-aceh-role-model-keuangan-syariah/

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ingin menjadikan Provinsi Aceh sebagai role model keuangan syariah bila kebijakan pengoperasian secara penuh bank syariah berhasil dijalankan.

Seperti diketahui, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh berencana menghentian pengoperasian perbankan konvensional, menyusul disahkannya peraturan daerah (Perda) atau yang kerap disebut Qanun mengenai Lembaga Keuangan Syariah (LKS). Dalam arti lain, nantinya di daerah Aceh hanya terdapat lembaga jasa keuangan yang berbasis Syariah.

“Mungkin kalau nantinya Aceh berhasil, kenapa tidak untuk jadi role model keuangan syariah di tempat lain untuk bisa menggerakkan keuangan syariah,” ungkap Deputi Komisioner Pengaturan dan Pengawasan Terintegrasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Imansyah di Kantor OJK Jakarta, Jumat 24 November 2017.

Imansyah juga mengaku pihaknya di OJK tidak mempermasalahkan adanya aturan tersebut. Dirinya menilai kebijakan tersebut dapat mendongkrak pasar keuangan syariah yang terlihat masih minim.

“Kita berharap industri keuangan syariah lebih berkembang, mungkin dengan Aceh punya inisiatif di sana yang memulai sektor jasa keuangan semua syariah bisa punya domino efek ke daerah lain dan bisa jadi role model keuangan syariah di daerah lain, kenapa tidak di fasilitasi,” ungkap Imansyah.

Sebagai informasi, menurut data OJK, pangsa pasar total aset keuangan syariah pada bulan September 2017 masih di bawah 10% dari keseluruhan aset keuangan Indonesia, yaitu sebesar 8,09% atau hanya mencapai Rp1.075,96 Triliun atau US$79,75 milyar.

PENGUMUMAN PELELANGAN TERBATAS PENGADAAN CONTACT CENTER

Dokumen Pengadaan Contact Center

BANK ACEH SYARIAH KANTOR KAS PAYA ILANG DIRESMIKAN

Takengon- PT Bank Aceh Syariah resmi membuka operasional Kantor Kas Bank Aceh di kawasan Paya Ilang Kota Takengon Kabupaten Aceh Tengah. Dioperasikannya kantor kas tersebut, ditandai dengan proses peresmian yang dilakukan oleh Bupati Aceh Tengah, Ir H Nasaruddin MM didampingi Jamaluddin Pimpinan PT Bank Aceh Syariah Cabang Takengon pada hari Rabu tanggal 15 November 2017.

Pimpinan PT Bank Aceh Syariah Cabang Takengon Jamaluddin menyebutkan dengan peresmian kantor kas di Paya Ilang Kota Takengon, sehingga PT Bank Aceh Syariah telah memiliki tiga kantor kas di Aceh Tengah. “Sebelumnya Bank Aceh sudah memiliki kantor kas di Kecamatan Celala dan Kecamatan Ketol, sehingga dengan adanya peresmian Kantor Kas Paya Ilang ini, jumlah kantor kas menjadi tiga.” kata Jamaluddin.

Menurut Jamaluddin dengan dibukanya kantor kas di Paya Ilang, Kota Takengon sehingga dapat membantu perekonomian serta memudahkan transaksi warga di sekitar Pasar Paya Ilang.”Jadi warga tidak perlu jauh-jauh lagi untuk melakukan transaksi keuangan karena sudah ada kantor yang dekat, serta pihak Bank Aceh Syariah bisa langsung melayani masyarakat,”ungkapnya.

Lenih lanjut dijelaskan, di Kabupaten Aceh Tengah, PT Bank Aceh Syariah telah memiliki delapan jaringan kantor. Satu Kantor Cabang, Lima Kantor Cabang Pembantu dan Tiga Kantor Kas.”termasuk juga kita sudah memiliki satu unit mobil kas keliling yang akan melayani nasabah di pasar-pasar dan pusat-pusat keramaian. Ada juga rencana penambahan jaringan baru tahun 2018 di Kecamatan Bintang, “ujarnya.

Sementara itu, Bupati Aceh Tengah, Ir H Nasaruddin MM, mengungkapkan kawasan Paya Ilang akan dijadikan sebagai kawasan bisnis tanah Gayo, sehingga dengan diresmikannya operasional Kantor Kas Bank Aceh Syariah bisa membantu masyarakat mengembangkan usahanya. “Bukan hanya menghimpun dana tetapi menyalurkan kepada pengusaha dan masyarakat yang ingin mengembangkan usahanya,” sebut Nasaruddin.

BANK ACEH SYARIAH BEDAH RUMAH DHUAFA

7 November 2017 menjadi hari yang berkah bagi Nurul dan keluarganya. Pasalnya hari tersebut Bank Aceh melalui Program Sosial Bank Aceh Peduli memberikan bantuan renovasi atau bedah rumah ditempati Nurul dan keluarganya di Gampong Neuheuen, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar. Program ini dikemas dalam Bantuan Rehab Rumah Dhuafa.

Nurul adalah anak kelima dari enam bersaudara. Nama ayahnya Tahyani. Nurul yang masih SD tergolong anak gigih dan rajin menuntut ilmu. Hal ini terbukti disela-sela membantu orang tuanya yang sehari-hari menjajakan buah jamblang di jembatan Pante Pirak, Banda Aceh, ia masih sempat belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolah.

Bantuan diperuntukkan bagi kaum dhuafa yang sebelumnya tinggal di rumah tak layak huni itu diserahkan Dirut Bank Aceh, Busra Abdullah didampingi Corporate Secretary Bank Aceh, Amal Hasan di lokasi rumah Nurul Gampong Neuheuen.

Bantuan tersebut juga bukti nyata bahwa Bank Aceh yang telah menjadi Bank Aceh Syariah tumbuh dan berkembang dari dan untuk rakyat Aceh. Hal ini sejalan dengan program kerja Pemerintah Aceh yang prorakyat. Bank Aceh akan selalu hadir di tengah-tenag masyarakat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

“Dengan bantuan ini kami mengharapkan dapat membantu meringankan beban keluarga Nurul, sehingga mereka dapat menikmati tempat tinggal yang lebih layak dibanding sebelumnya,” kata Dirut Bank Aceh, Busra Abdullah melalui Corporate Secretary, Amal Hasan. Tahyani, ayah kandung Nurul sangat bersyukur dan berterima kasih atas kepedulian Bank Aceh. Dia berharap Bank Aceh dapat terus maju dan dapat terus membantu masyarakat dhuafa deperti dirinya.

Kepala Komplek Perumahan Neuheun, Firdaus yang turut hadir pada kesempatan itu juga mengucapkan terima kasih kepada Bank Aceh. Ia berharap kegiatan-kefiatan sosial terhadap kaum dhuafa tetap terus dilanjutkan Bank Aceh Syariah. Selain itu, ia juga berharap Bank Aceh Syariah dapat terus berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan taraf hidup masyarakat Aceh di masa mendatang. “Karena Bank Aceh tumbuh dan berkembang berkat dukungan dan kepedulian rakyat Aceh,”kata Firdaus

MANAJEMEN KINERJA SEMAKIN MEMBAIK BANK ACEH RAIH GCG AWARD 2017

“Berkat pengelolaan kinerja yabg semakin baik Alhamdulillah Bank Aceh berhasil  mendapatkan penghargaan “Indonesia Good Corporate Governannce (GCG) 2017″ dengan predikat “Platinum”. Penyerahan penghargaan tersebut berlangsung di Tiara Ballroom Crowne Plaza Hotel & Convention jln. Gatot Subroto Jakarta, Kamis (02/11)   diserahkan oleh Irlisa Rahmadiana CEO Media Economic Review dan diterima langsung oleh Direktur Utama Bank Aceh Syariah  Busra Abdullah.

Busra Abdullah yang didampingi Corporate Secretary Bank Aceh  Amal Hasan mengatakan bahwa penghargaan Indonesia Good Corporate Governance 2017 diberikan kepada perusahaan bumn dan bumd serta beberapa instansi bisnis lain dari seluruh Indobesia yang dalam pengelolaan manajemen dan kinerjanya mampu menerapkan praktek GCG dengan baik dan konsisten.

Dirut Bank Aceh  Busra Abdullah melalui corporate secretary Amal Hasan nenjelaskan penetapan BUMN/BUMD yang berhak mendapatkan Indobesia Good Corporate Governance  Award 2017 dilakukan berdasarkan penilaian oleh Dewan Juri Independen yang berkompeten serta independen di bidang GCG  dari biro riset Majalah Economic Review berkerjasama  dengan International Business School (IPMI), Sinergi Daya Prima, dan Indonesia Asia Institute-Ideku Group dengan menggunakan acuan utama data dan Penilaian Kinerja Selama periode Januari s/d Desember  tahun 2016. Alhamdulillah Bank Aceh berhasil terpilih sebagai Bank dengan praktek Good Corporate Governannce (GCG) terbaik 2017 kategori BUMD terbaik.

Amal Hasan menambahkan pasca konversi menjadi Bank Umum Syariah pengelolaan manajerial dan kinerja Bank Aceh Syariah akan terus menjadi fokus utama. Manajemen Bank Aceh memilki komitmen yang kuat untuk memastikan penerapan Good Corporate Governance (GCG) dalam operational bank dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang diatur oleh regulator Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia.

Penghargaan ini semakin membuktikan konsistensi bank aceh dalam menjalankan tatalaksana manajemen dan kinerja yang sehat, akuntabel dan transparan. Ini menjadi modal penting bagi bank kebanggaan milik rakyat aceh ini dalam memperkuat akselerasi  bisnis diseluruh  segmen  untuk menjadi  Leading Regional Bank di masa mendatang kata Amal Hasan.

Manajemen  Bank Aceh  syariah  selalu  memberikan  dorongan  agar  semua  karyawan konsisten dalam melaksanakan prinsip GCG untuk setiap pelaksanaan tugas dan tanggungjawab untuk pencapaian visi misi bank.

Amal Hasan menambahkan ada 6 (enam) prinsip dasar pelaksanaan GCG dalam struktur manajemen Bank Aceh yaitu Keterbukaan (Transparency), Akuntabilitas (Accountability), Pertanggungjawaban (Responsibility), Kemandirian (Independency), Kewajaran (Fairness) dan Sikap Kepedulian (Social Awareness) dalam setiap kegiatan usahanya pada seluruh tingkatan atau jenjang organisasi mulai dari Dewan Komisaris dan Direksi sampai pada seluruh karyawan di Bank Aceh Syariah

Ini merupakan komitmen kita semua dalam mewujudkan sistem ekonomi syariah di Aceh. Performa kinerja Bank Aceh setelah satu tahun menjadi Bank Umum Syariah menunjukkan tren positif seperti terlihat pada tabel di bawah i

 

Kinerja keuangan yang tumbuh dengan baik juga  didukung oleh praktek GCG yang baik pula. Semoga Bank Aceh terus berkontribusi untuk daerah Aceh khusunya dan Indonesia umumnya sebagai Bank Umum Syariah di masa yang akan datang.

SEURAMOE BANK ACEH EDISI 20

Seuramoe Bank Aceh Edisi 20

BUPATI ACEH BESAR RESMIKAN BANK ACEH KANTOR KAS SARE

Bupati Aceh Besar IR Mawardi Ali, Senin (16/10), meresmikan penggunaan gedung PT Bank Aceh Syariah Kantor Kas Sare, Kecamatan Lembah Seulawah. Selain pimpinan dan keluarga besar PT. Bank Aceh Syariah Cabang Jantho, peresmian itu juga dihadiri  Direktur Utama PT. Bank Aceh Syariah, Busra Abdullah SE, jajaran direksi Bank Aceh syariah, Pimpinan Bank Aceh Syariah KPO, Fadhil Ilyas SH MH, Kepala SPN Polda Aceh, Forkopimda, kepala SKPK, Muspika Lembah Seulawah,mitra kerja dan nasabah Bank Aceh, serta jumlah tamu undangan lainnya.

Peresmian itu diawali dengan peusijuek  kantor baru oleh Ketua Majelis Permusyarawatan Ulama (MPU) Aceh Besar, Tgk Maksalmina AW. Setelah itu dilanjutkan pemotongan pita oleh Bupati Aceh Besar, Ir Mawar di Ali, didampingi oleh Direktur Utama Bank Aceh Syariah, Busra Abdullah SE, dan Pimpinan Bank Aceh Syariah Cabang Jantho, Gunawan Djuned SE.

Pada kesempatan itu, Bupati juga membuka buku rekening sebagai nasabah pertama bank tersebut. Bupati dalam sambutannya mengatakan, Pemkab Aceh Besar mengapresiasi setinggi-tingginya kepada Pimpinan Bank aceh Syariah yang selama ini sangat mendukung berbagai upaya peningkatan ekonomi masyarakat kabupaten itu, termasuk dengan membuka kantor kas di beberapa kecamatan di Aceh Besar.

Dikatakan, pihaknya sangat komit mendukung perkembangan bank-bank di Aceh Besar. Secara khusus Mawardi berharap keberadaan Bank Aceh Syariah selaku bank milik pemerintah daerah mampu menjangkau tempat-tempat yang memiliki gerak pertumbuhan ekonomi yang dinamis.

Bupati juga berharap Bank Aceh Syariah dapat terus meningkatkan pelayanan, akses, dan edukasi tentang perbankan kepada masyarakat melalui pembukaan kantor baru ke kecamatan-kecamatan di Aceh Besar seperti yang sudah dilakukan selama ini. “kepada masyarakat, pegawai negeri, pelaku usaha, dan profesi lainnya agar lebih giat lagi menabung di Bank Aceh Syariah. Sebab, Setiap uang yang kita tabung tersebut sangat bermanfaat untuk menggerakkan roda pembangunan daerah dan meningkatkan taraf perekonomian di Aceh Besar,” demikian Bupati Mawardi Ali.

Pimpinan Bank Aceh Cabang Jantho, Gunawan Djuned SE mngungkapkan Kantor kas Sare merupakan kantor kas kelima yang diresmikan sejak tahun 2015 diwilayah Aceh Besar. Kantor kas yang sudah beroperasi sebelumnya, sebut gunawan, masing-masing dilampeuneurut Kecamatan Kuta Baro.

Selain itu, menurutnya Bank Aceh Syariah Jantho juga memilikin dua Kantor Cabang Pembatu (Capem) yaitu di Aneuk Galong, Kecamatan Sukamakmur dan Ajuen, Kecamatan Pekan Bada. “Dengan kehadiran kantor kas Bank Aceh syariah ini kami harapkan dapat membantu dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat secara khusus dan pembangunan di Aceh Besar secra umum,” ujarnya.

Kehadiran kantor kas di kecamatan-kecamatan, tambah Gunawan, juga dimaksudkan untuk membantu masyarakat agar lebih mudah melakukan transaksi keuangan melalui Bank Aceh, Sehingga keberadaan Bank Aceh Syariah makin terpercaya dan mampu memberikan service excellent kepada nasabah serta dapat mendorong pertumbuhan ekonomi diwiliyah Aceh Besar. “Insya Allah, pada akhir tahun ini kami juga berencana membuka kantor kas baru di Tungkop, Kecamatan Darussalam,” pungkas Gunawan Djuned.

KAS TITIPAN BANK INDONESIA (BI) SUBULUSSALAM BEROPERASI

Banda Aceh- Kas Titipan Bank Indonesia (BI) Subulussalam resmi beroperasi di Kantor Cabang Bank Aceh Syariah Subulussalam, Senin (9/10). Peresmian ini ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama kas titipan oleh Kepala Perwakilan BI Aceh, Ahmad Farid dan Pimpinan Cabang Bank Aceh Syariah Subulussalam, Saifannur yang disaksikan Direktur Utama Bank Aceh Syariah, Busra Abdullah dan pejabat internal BI.

Peresmian kas titipan tersebut dihadiri oleh Walikota Subulussalam, H Merah Sakti, muspida kota Subulussalam, serta pimpinan perbankan Subulussalam dan Singkil. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas uang tunai layak edar, sekaligus menjamin ketersediaan uang tunai bagi perbankan dan masyarakat di wilayah Pantai Selatan Aceh.

Kepala Perwakilan BI Aceh, Ahmad Farid menyampaikan keberadaan kas titipan dapat meningkatkan cash management yang lebih baik di perbankan. Dikatakan, layanan perkasan pada BI digolongkan ke dalam dua jenis layanan yaitu layanan kas dalam kantor dan layanan kas luar kantor. Bentuk layanan kas dalam kantor berupa kegiatan setoran, bayaran, dan penukaran uang rupiah. Sedangkan layanan kas di luar kantor dilakukan dalam bentuk pelaksanaan kegiatan kas keliling dan kas titipan.

“Salah satu pertimbangan BI perlu membuka kas titipan di Subulussalam adalah karena kota tersebut memiliki prospek perekonomian yang cukup tinggi, dan memiliki sentra perdagangan, pertanian dan perkebunan, sehingga Subulussalam termasuk daerah yang memiliki kebutuhan uang kartal cukup tinggi,”Kata Ahmad Farid.

Selain itu, letak Subulussalam dinilai cukup strategis, yakni sebagai penghubung wilayah Pantai Aceh yang berdekatan dengan Singkil, Simeulue, Aceh Selatan, dan berbatasan langsung dengan Sumatera Utara. Hal tersebut semakin menambah kebutuhan uang kartal di masyarakat. Dengan adanya kas titipan ini masyarakat dapat lebih mudah memperoleh uang baru yang lebih bersih. Sehingga interaksi masyarakat dengan uang lusuh dan kotor yang berpotensi menimbulkan penyakit dapat diminimalisir. Hal ini dilakukan untuk mewujudkan Clean Money Policy.

 

1 TAHUN KONVERSI BANK ACEH RAIH 2 PENGHARGAAN NASIONAL

“Alhamdulillah Bank Aceh berhasil terpilih sebagai salah satu yang terbaik dikelompok Bank Umun Syariah Nasional dengan total asset diatas Rp.10 trilyun sd 35 trilyun” -Busra Abdullah/ Dirut bank Aceh-

PT.Bank Aceh Syariah berhasil meraih 2 (dua) penghargaan nasional masing-masing untuk kategori  “The Most Efficient Bank 2017″ atau Bank dengan kinerja keuangan yang sangat effisoen serta penghargaan dengan kategori “The Most Reliable Bank 2017″ atau Bank dengan kinerja yang nemiliki daya tahan  yang handal terhadap berbagai pengaruh ekonomi.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Deputi Komisioner Pengawasan Perbankan II OJK bapak Yohanes Santoso dan diterima oleh Corporate Secretary Bank Aceh Syariah Amal Hasan di JS Luwansa ballroom and convention center kuningan Jakarta, Rabu (13/9) yang digelar dengan tema “Indonesia Banking Award 2017”

Direktur Utama Bank Aceh, Busra Abdullah melalui Corporate Secretary Amal Hasan mengatakan penetapan pemenang untuk penghargaan ini berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh biro survey dan riset majalah nasional Tempo Media Group bekerjasama dengan Indonesia Banking School (IBS) terhadap data dan laporan kinerja keuangan bank  dengan menggunakan data 106 Bank Umum Konvensional dan 15 Bank Umum Syariah dengan menggunakan acuan laporan keuangan akhir tahun 2016. Alhamdulillah Bank Aceh berhasil terpilih sebagai salah satu yang terbaik dikelompok Bank Umum Syariah Nasional dengan total asset diatas Rp.10 trilyun sd 35 trilyun dengan meraih dua kategori sekaligus dalam penghargaan Indonesia Banking  Award 2017  tersebut.

Amal Hasan menambahkan penghargaan ini merupakan salah satu bukti appresiasi nasional terhadap capaian kinerja bank milik pemerintah Aceh ini. Dukungan seluruh nasabah dan masyarakat Aceh juga sangat menentukan dalam pencapaian penghargaan ini. Kita sangat bersyukur atas prestasi yg dicapai dan penghargaan Indonesia Banking Award 2017 ini menjadi kado istomewa 1 (satu) tahun konversi Bank Aceh  menjadi Bank Umum Syariah. “Alhamdulillah dua kategori penghargaan nasional kita peroleh tepat 1 tahun sebagai Bank Umum Syariah, yang jatuh pada 19 September 2017 nanti.

Ini merupakan wujud dari komitmen yang kuat, serta  sikap konsistensi kita semua dalam megembangkan sistem ekonomi syariah di Aceh. Performa kinerja Bank Aceh pasca konversi kini menjadi tolok ukur bagi Bank Daerah lain di Indonesia untuk mengembangkan ekonomi syariah di Indonesia. Dengan keberhasilan meraih 2 penghargaan ini kita harapkan akan menjadi semangat dan optimisme bagi bank daerah lain untuk percepatan pengembangan bank syariah diwilayahnya masing-masing. Baik melalui skenario konversi maupun spinoff.

Award ini didedikasikan untuk seluruh nasabah dan masyarakat Aceh serta seluruh karyawan Bank Aceh. Kita harapkan penghargaan ini akan menambah semangat kita untuk mempercepat akselerasi pengembangan ekonomi syariah secara kaffah di Aceh.

Memasuki 1 tahun konversi menjadi  bank umum syariah kinerja keuangan bank aceh terus menunjukkan trend yang pisitif. Hal ini dapat dilihat dari realisasi pada semester pertama per 30 juni 2017 trend pergerakan positif, dari total aset sudah mencakar sebesar Rp.23 triliun dengan profitabilitas laba sebesar Rp.277 miliar. Sementara total pembiayaan mencapai sebesar Rp 12.48 triliun. Total DPK per Juni 2017 mencapai  rp.19.06 trilyun dengan jumlah account sekitar 1.6juta  rekening.

Setahun Bank Aceh Setelah “Konversi”

Published by Majalah Infobank Edisi Nomor 469 September 2017 Volume. XXXIX

Setelah “dikonversi” alias menjadi syariah, Bank Aceh tumbuh dengan sangat baik. Industry perbankan syariah pun ketiban berkah lantaran bisnisnya mulai merekah. Tahun ini bank-bank syariah pasang target lumayan tinggi.

Oleh Ari Nugroho

 

Pada 19 September 2017 Bank Aceh (Bank Aceh Syariah) genap berumur setahun dalam label bank umum syariah (BUS). Konversi bank kebanggaan masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) ini membawa angin segar bagi industry perbankan syariah di Tanah Air.

Bukti yang paling kelihatan ialah market share aset perbankan syariah berhasil menembus angka 5%. Setelah selama satu  decade konsisiten jongkok dibawah 5%.  Dan, sekali lagi, hal itu terjadi lantaran ditopang konversi Bank Aceh Syariah. Sampai dengan Mei 2017, market share aset peerbankan nasioanal tercatat 5,35%.

Kontribusi besar Bank Aceh Syariah terhadap industry perbankan syraiah terhadap industry perbankan syariah diamini Ahmad Soekro, Kepala Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Menurut nya, konversi bank aceh yang dipimpin Busra Abdullah sebagai direktur utama ini telah mendorong perkembangan perbankan syariah.

“Konversi Bank Aceh mendorong positif perkembangan dan pertumbuhan perbankan syraiah di Indonesia selama 2016. Sejauh ini Bank Aceh Syariah menunjukkan pertumbuhan yang positif, baik dari sisi asset maupun kenerja keuangan,” kata Ahmamd soekro kepada Infobank, blan lalu.

Dilihat dari kinerja keuangan, Biro Riset Infobank (birl) mencatat, secara uum bank aceh syariah tumbuh dengan sangat baik. Hal itu ditandai dengan dengan pertumbuhan bisnisnya yang lebih tinggi dibandingkan dengan industry perbankan syariah yang diwakili 13 BUS dan 21 unit usaha syariah (UUS). Per Juni 2017 aset bank ini tumbuh 23,03% secara year to date (ytd), dari 18,76 triliun. Sementara, asset industry perbankan syariah pada periode yang sama tumbuh 6,08% atau menjadi Rp378,20 triliun.

Dari sisi laba, Bank Aceh Syariah juga sukses mempertebal perolehan cuan-nya hingga lebih 100%. Jika pada akhir 2016 laba bank ini tercatat Rp101,82 miliar, hingga enam bulan berjalan pada 2017,labanya mengembang 104,82% menjadi Rp207,89 miliar. Sementara, laba industry perbankan syariah sampai dengan Juni 2017bsecara ytd terctat tumbuh 10,07% atau menjadi Rp2,31 triliun.

Sayangnya kinerja pembiayaan Bank Aceh Syariah relative agak masih tersendat. Pertumbuhan pembiayaan tak setinggi pos-pos keuangan lainnya. Bahkan, bila dibandingkan dengan pertumbuhan industry, pertumbuhan pembiayaan bank ini lebih rendah. Per Juni 2017 pembiayaan yang disalurkan Bank Aceh Syariah tercatat tumbuh 2,31% dari posisi akhir 2016 atau menjadi Rp12,49 triliun. Sedangkan, di industry, pertumbuhan pembiayaan tercatat 10,07% pada periode yang sama.

Kehadiran Bank Aceh Syariah yang tercatat sebagai bank aceh syariah terbesar kelima di Indonesia dari sisi aset sangat perlu diapresiasi lantaran memberi energy positif bagi industry. Setelah sempat mengalami perlambatan pertumbuhan pada tiga tahun kebelakang, kini bank-bank syariah mulai tancap gas.

Pada tahun pembiayaan perbankan tumbuh 16,44% dari tahun sebelumnya dengan laba yang juga mengembang, yakni sebesar 17,36%. Sampai dengan Jui 2017, bisnis perbankan syariah berlari lebih kencang dibandingkan dengan periode yang sama 2016. Lihat saja, pembiayaan tumbuh 19,42% dari Rp222,17 triliun pada Juni 2016 menjadi Rp265,31 triliun pada Juni 2017. Sementara, labanya melejit hingga 61,78% pada periode yang sama.

Banker-bankir bank syariah pun makin optimistis. Hingga akhir tahun ini, industry perbankan syariah mematok pertumbuhan tetap double digit dan lebih baik dari  pada tahun 2016. “Tahun 2017 seharusnya much beter. Industry, sayakira, seharusnya tumbuh double digit,” tutur Achmad K. Permana Sekretaris Jendral Asosiasi Perbankan Syariah Indonesia (Ambisindo) yang juga Direktur Syariah Permata Bank, kepada Indra Haryono dari Infobank, medio bulan lalu. Acmad K. Permana juga mengatakan, bank syariah yang dipimpinnya memasang target tumbuh dua digit tahun ini. Ia optimistis pertumbuhan bisnis sebesar 15% bias dicapai PermataBank Syariah pada 2017.

Target bank syariah untuk tumbuh dua digit sudah sampai ke OJK. OJK sendiri dalam proyeksinya juga menilai bahwa target itu realistis dan besar kemungkinan bisa tercapai. “Diperkirakan perbankan syariah pada 2017 akan tumbuh pada kisaran 11% sampai dengan 12%,” tukas Ahmad Soekro.

Senada dengan PermataBank Syariah, BCA juga mengincar pertumbuhan sebesar 15%. Hal ini ditegaskan John Kosasih, Direktur Utama BCA Syariah, kepada Infobank, Juli lalu. “Kami di BCA Syriah juga mau mencoba, kira-kira (tumbuh) di 15%-lah,” ucapnya.

Namun BCA Syariah akan memastikan bahwa pertumbuhan yang dicapainya adalah pertumbuhan yang berkualitas. Pasalnya, segala kemungkinan bisa terjadi sehingga Bank tetap perlu bergerak hati-hati. “Namun, kami lihat lagi kondisi ekonomi. Kalu dunia usaha makin bagus, saya kira, kami bisa lebih dari itu. Namun, memang, BCA Syariah banknya belum terlalu besar. Kami konservatiflah. Jangan terlalu agresif,” imbuh John Kokasih.

Langkah yang diambil BCA Syariah itu sangat bijaksana. Menurut Infobank Insitute, bank-bank syariah lain juga perlu menerapkan pemahaman seperti itu. Di luar sana, kesempatan bagi perbankan syariah untuk tumbuh tinggi memang ada. Namun, bank-bank syariah tetap perlu melangkah dengan hati-hati sekaligus mengimbangi pertumbuhan bisnis dengan dasar-dasar bisnis perbankan yang makin baik. Misalnya, dengan menerapkan prinsip-prinsip prudential banking dan tata kelola perusahaan.

Bank syariah sebagai rahmat bagi semua harus mampu memberikan solusi terbaikkepada setiap nasabah. Jangan sampai, demi mengejar pertumbuhan tinggi, bank-bank syariah melupakan kebaikan yang seharusnya diberikan kepada nasabah. Namun, bukan berartI bank syariah harus selalu berkompromi jika dihadapkan pada masalah, khususnya masalah pembiayaan. Sebab, jika seperti itu bank syariah bisa “wassalam”. Sebagai sebuah bank,bank syariah tetaplah sebuah entitas bisnis yang mesti mendapat profit plus menjauhi kerugian.

“Secara umum rencana bisnis bank (RBB) bank syariah memproyeksi pada 2017 ini bank-bank syariah masih bisa tumbuh dua digit. Memperhatikan perkembangan industry perbankan syaria yang terjaga sampai dengan posisi Juni 2017 dan proyeksi pertumbuhan menurut RBB bank-bank syariah serta oulook OJK, maka diperkirakan perbankan syariah pada 2017 akan tumbuh pada kisaran 11% sampai dengan 12%,” Ahmad Soekro, Kepala Departemen Perbankan Syariah OJK.

“Tahun 2017 seharusnya much better. Pada 2016 adalah terkahir perbankan syariah focus pada restrkturisasi. Jadi, harusnya portopolio (2017) lebih bersih dibandingkan dengan 2016. Tentunya, 2017 akan lebih focus pada pertumbuhan dan aset-asetnya jauh lebih sehat sehingga secara profitabilitas pertumbuhannya jauh lebih bagus. Industry, saya kira, seharusnya tumbuh double digit,” Achmad K. Permana, Sekretaris Jendral Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo).

“Sebenarnya begini, targrt kami, kalau dari BI, OJK sudah keluarkan target, mungkin double digit. Kami di BCA Syariah juga mau mencoba, kira-kira di 15%-lah. Namun, memang, BCA Syariah banknya belum terlalu besar. Kami konservatiflah. Jangan terlalu agresif. Kami harus bisa baca nasabah juga, harus bisa beri masukan untuk nasabah,” John Kokasih, Direktur Utama BCA Syariah.

 

KINERJA BANK ACEH SYARIAH & PERBANKAN SYARIAH

Bank Aceh Syariah

BUS & UUS

2016

Juni 2017

ytd (%)

2016

Juni 2017

ytd (%)

Aset

18.759

23.079

23,03

356.504

378.198

6,08

DPK

14.429

19.221

33,21

279.335

302.013

8,12

Pembiayaan

12.206

12.488

2,31

248.007

265.317

6,98

Laba

101

207

104,18

2.096

2.307

10,07

NPF (%)

1,39

1,51

-

4,15

3,99

-

Ket: dalam Rp miliar                                                                  Sumber: Biro Riset Infobank (birl)